Pusingnya Memilih Cara Membuat Catatan
2 min read

Pusingnya Memilih Cara Membuat Catatan

Salah satu kebiasaan yang masih saya lakukan semenjak sekolah hingga kini bekerja adalah mencatat. Bagi saya, mencatat adalah mengikat ilmu. Namun, sejak 2019, ternyata cara saya membuat catatan terasa tidak lagi efisien.

Salah satu kebiasaan yang masih saya lakukan semenjak sekolah hingga kini bekerja adalah mencatat. Bagi saya, mencatat adalah mengikat ilmu.

Namun, sejak 2019, ternyata cara saya membuat catatan terasa tidak lagi efisien.

Misalnya saja, sebagai Software Engineer Lead, saya menghadapi evaluasi team setiap 6 bulannya. Dan saya begitu kesulitan kalau harus menjelaskan apa saja pencapaian team dalam 6 bulan terakhir.

Apa aja ya pencapaian si A?
Eh, siapa ya yang mencetuskan ide untuk algoritma X?
Siapa aja ya yang terlibat di proyek Y dan perannya sejauh mana?

Ini kalau saya gak inget, gak bisa jawab, mampus saya!

Maka saya pun mencoba bikin sebuah sistem dengan spreadsheet. Isinya adalah catatan aktivitas sehari-hari, apa yang terjadi hari itu, siapa yang terlibat, dan apakah ada link yang relevan dengan kejadian itu.

Bukannya bikin catatan, malah bikin database wkk. Tapi, guna gak? GAK!

Memang, saya jadi bisa ngingat lagi apa yang terjadi pada suatu tanggal. Tapi, terlalu banyak informasi yang gak perlu dan semuanya tercampur jadi satu. Butuh waktu lama untuk menyimpulkan mana yang penting dan tidak penting, mana yang berkaitan satu sama lain.

Dan saya pun kapok, gak lagi pakai sistem ini.

Hingga ada salah satu kenalan di SMA yang getol memperkenalkan Bullet Journal, alias Burjo.

Seru, banget. Kita direkomendasiin untuk bikin catatan berupa buku dan ada beberapa contoh yang diberikan. Bagusnya, informasi yang saya simpan lebih rapi dan lebih mudah untuk mendapatkan hal-hal penting dalam 1 buku.

Sayangnya semua serba manual. Saya harus tulis ulang hal yang saya sudah saya tulis di hari ini ke sebuah halaman lain yang relevan. Saya akui saya agak malas untuk hal-hal yang repetitif dan low-impact. Walau menurut penggagas Burjo, menulis ulang ke halaman lain ini bakal bantu untuk mengingat  lebih baik.

Sayangnya malas saya lebih kuat wkk, jadi saya pun cari solusi yang lebih mudah dan digital.

Saya pun mencoba menggunakan Notion, dengan kombinasi metode Burjo dan juga membangun Wiki di situ.

Seru juga, banget. Notion memudahkan saya bikin Wiki pribadi yang saya gunakan saat bekerja. Tapi lagi-lagi saya gagal terbiasa dengan labelling, tagging, copy hal yang sama berulang-ulang hanya untuk menandai bahwa catatan ini related sama catatan itu.

Notion bagus, sayangnya masih belum sesuai dengan apa yang saya cari: Catatan yang terhubung satu sama lain jika relevan satu sama lain.

Dan akhirnya ketemu dengan Obsidian. Taglinenya keren: A second brain, for you, forever. Obsidian jalan di lokal secara offline. Format filenya Markdown, yang diklaim future proof.

Setelah melihat tutorial dan contoh dari beberapa penulis via Youtube, saya suka banget! Obsidian gak cuman dianggap sebagai software catatan, tapi juga knowledge building.

Saya menemukan apa yang saya cari di Obsidian. Sudah seminggu dan saya masih demen pakenya. Migrating from Notion, soon!

Tapi, seperti platform gratis lainnya, Obsidian punya kekurangan.

  1. Obsidian hanya berjalan di lokal secara offline. Tidak ada built-in sync gratisan ke semua device. Kamu harus bayar $8 per bulan. Masih bisa diakalin dengan sync Google Drive.
  2. Obsidian gratis, tapi hanya untuk personal. Kecuali freelance atau usaha sendiri tanpa tim, kamu harus bayar $50 per tahun. Eh, Notion free for commercial gak ya? Haduh.

Lumayan ya harganya, agak mirip dengan langganan Medium per tahun. Karena saya mau pakai untuk kepentingan catatan Software Engineer Lead, mau gak mau ya harus bayar.

Semoga bisa jadi manfaat yang lebih besar. Kalau kamu, catat pakai apa?