Mengapa Saya Memilih Flutter
3 min read

Mengapa Saya Memilih Flutter

Ada begitu banyak opsi untuk mengembangkan frontend dari aplikasi web, seperti React, Vue, dan Svelte. Namun, Flutter bisa jadi opsi yang lebih baik dengan performa native & 1 code base untuk beberapa platform sekaligus.
Mengapa Saya Memilih Flutter

Saya sedang membangun sebuah aplikasi yang harapannya dapat rilis di 2021. Pengalaman dan keahlian saya ada di backend, sementara untuk membangun sebuah aplikasi yang utuh saya membutuhkan keahlian frontend.

Memiliki partner dengan keahlian Frontend untuk mewujudkannya adalah sebuah keistimewaan yang belum siap saya penuhi. Jadi, saya memilih untuk melakoninya sendiri dulu. Maka dimulailah perjalanan saya sebagai Full Stack Developer!

Ada beberapa pilihan frontend yang bisa saya pilih. React, Vue, dan Svelte sudah saya coba. Saya kerap memikirkan bagaimana agar aplikasi yang saya bangun ini dapat berjalan di Android, iOS, dan Web.

Progressive Web App bisa jadi salah satu opsi, tapi tetap masalah performa aplikasi dan instalasi bisa jadi kurang familiar bagi target market saya.

Hingga akhirnya saya memilih untuk mendalami Flutter.

Mengapa Memilih Flutter?

Alasan utama kenapa saya memilih Flutter adalah karena saya ingin membuat aplikasi dengan performa native namun saya hanya memiliki pengetahuan dalam Web Development.

Jika saya memilih untuk menyebrang dengan memilih Mobile App Development, memilih Android atau iOS, tentu akan memakan waktu yang sangat banyak.

Sementara Flutter memungkinkan developer untuk membangun aplikasi Android & iOS plus Web dalam 1 codebase yang sama. Mantap banget buat Full Stack Developer, bukan?

Flutter is Google's UI toolkit for building beautiful, natively compiled applications for mobile, web, desktop, and embedded devices from a single codebase.
- https://flutter.dev/

Kekurangan Flutter

Walau demikian, tetap ada kekurangan Flutter yang sempat saya pertimbangkan. Sebelum memilih Flutter, saya sempat memikirkan bahwa ukuran aplikasi harus tetap dijaga seringan mungkin.

Saya pun menemukan artikel ini,  

Comparing APK sizes
For apps in Flutter, React Native, Kotlin and Java

Dari artikel tersebut, Dharmin Majmudar mencoba membandingkan aplikasi hello world jika dibuat menggunakan Java, Kotlin, React Native dan Flutter.

Native baik Java atau pun Kotlin punya ukuran yang sangat kecil, <= 550 KB. Sementara React Native & Flutter 7.5 MB.

Singkat kata, saya menyimpulkan jika ingin memiliki aplikasi dengan size sekecil mungkin, hindari Flutter atau kompromi dengan kekurangan ini.

Saya sudah siap dengan reisiko bahwa aplikasi yang saya bangun akan memiliki size yang cukup besar, kuota device storage seharusnya tidak menjadi masalah di 2021, utamanya bagi target market saya.

Belajar Flutter dimana?

Saya mulai belajar Flutter di BuildWithAngga.com. Lumayan, dengan daftar saja saya sudah bisa mendapat 6 random course gratis! Dan randomly picked, untung-untungan dapetnya apa.

Selain belajar Flutter, saya juga mendapat akses lain untuk mempelajari Figma. Hal yang selama ini hanya saya lihat saat briefing fitur baru dari UI/UX Designer.

Saya suka banget materinya, cocok buat belajar jadi Full Stack Developer atau Freelance!

Kelas Online Gratis Flutter Membangun Website Sederhana — BuildWith Angga
Belajar materi kelas Flutter Membangun Website Sederhana secara online dan gratis berkonsultasi dengan mentor yang berpengalaman pada bidangnya di BuildWith Angga

Kalau yang ini hasil saya mengikuti course dari BWA, halaman demo bisa kamu lihat di sini, free host di Github Pages.

samaita/bwa-simple-web
Contribute to samaita/bwa-simple-web development by creating an account on GitHub.